RABU, 20 OKTOBER 2010 | 20:38 WITA | 18307 Hits
Share |

Tinjauan Bahasa dan Memaknai Hari Jadi Ke-341 Sulsel
Saya Sulsel, Saya Bangga, Saya Maju
Oleh: Masdiana
Semoga semangat hari jadi ke-341 Provinsi Sulawesi Selatan menuntun warga provinsi ini semakin sejahtera, semakin berkualitas di tengah peradaban bangsa yang begitu akseleratif. Dirgahayu Provinsi Sulawesi Selatan; Saya Sulsel, Saya Bangga, Saya Maju… Semoga…!//////////

Ternyata negara kita (Indonesia) ini senang dengan sebuah ritual atau upacara-upacara peringatan. Ritual atau upacara untuk memperingati momentum bersejarah memang tak salah sepanjang, peringatan tersebut memiliki substansi dan arah yang jelas dan berujung pada peningkatan kesejahteraan rakyat selaku "pemilik sah negeri ini".

Artinya, kita jangan hanya terjebak pada ritual dan ragam kegiatan yang dilaksanakan untuk memeriahkan momentum hari bersejarah tertentu. Tapi lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi spirit untuk kemajuan negeri ini ke depan. Sebut saja hari kebangkitan nasional!

Setiap hari kebangkitan nasional, kita selaku warga negara Indonesia selalu memperingatinya dengan sebuah upacara bendera, di sekolah-sekolah bendera berkibar. Itukah yang hanya bisa dilakukan bangsa ini untuk memaknai hari kebangkitan? Bangsa ini selalu memperingati hari kebangkitan nasional. Tetapi, (mungkin) tidak pernah memetik makna dari hari kebangkitan tersebut.

Justru bangsa ini dihadiahi dengan peringkat korupsi yang terus melaju kencang. Data terakhir tahun 2009, Indonesia merupakan negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik. (Data dirilis Senin, 8 Maret 2010 oleh Political & Economic Risk Consultancy).

Kita seolah berputar pada lingkaran ritual peringatan yang tak berujung. Ritual yang hanya berfungsi untuk dikenang saja. Ritual yang hanya sebagai petanda bahwa hari itu adalah sebuah hari yang perlu diperingati.

Itu saja! Ya, itu saja kalau dalam peringatan itu tidak terdapat hal yang dapat dirasakan dan diejawantahkan dalam kehidupan ini. Bangsa ini seharusnya mulai menyadari diri, bahwa lingkaran ritual peringatan harus diubah paradigmanya.

Tentu catatan saya ini tak terkecuali saya persembahkan untuk peringatan hari jadi ke-341Provinsi Sulawesi Selatan. Saya mengharapkan momentum hari jadi Sulawesi Selatan yang jatuh pada 19 Oktober menjadi sebuah wadah/momen evaluasi dan introspeksi seluruh pihak, baik pemerintah, pengusaha, pejabat, guru, PNS, mahasiswa dan lain sebagainya untuk mewujudkan masyarakat Sulawesi Selatan yang maju dan patut kita banggakan semua.

Tahun ini, ada yang berbeda pada momentum hari jadi Provinsi Sulawesi Selatan. Jika tahun-tahun sebelumnya, setiap hari jadi Provinsi Sulawesi Selatan pemerintah setempat hanya mengeluarkan sebatas tema yang konvensional, tapi tahun ini, selain tema, ternyata juga ada tagline;

"Saya Sulsel, Saya Bangga, Saya Maju" dan ikon hari jadi Sulsel berupa sepasang kartun/karikatur I Baso-I Besse, ikon yang mewakili ragam suku di Sulawesi Selatan, Bugis, Makassar, Tana Toraja dan Mandar.

Tagline "Saya Sulsel, Saya Bangga, Saya Maju" menurut saya memiliki filosofis yang begitu dalam untuk kemajuan dan eksistensi Provinsi Sulawesi Selatan. Sebenarnya, saat membaca tagline ini saya menilainya agak rancu. Karena biasanya pola kalimat dalam bahasa Indonesia biasanya terdiri subjek+predikat. Predikat biasanya diisi oleh verb dan adjektif (kata kerja dan atau kata sifat).

Dari pola kalimat ini, maka dapat dikategorikan; Saya Bangga (Saya=subjek, Bangga=adjective), Saya Maju (Saya=subjek, Maju=adjective). Nah, persoalan sekarang adalah kata "Sulsel".

Sulsel adalah sebuah tempat atau wilayah yang merupakan akronim dari Sulawesi Selatan, yakni salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di selatan Pulau Sulawesi. Pantaskah suatu subjek diikuti oleh keterangan tempat? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa subjek harus diikuti oleh kata sifat atau kata kerja. Contoh Saya Makan (subjek dan verb), saya cantik (subjek dan adjective).

Dari kritikan tata bahasa yang saya lontarkan ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa tagline hari jadi Sulsel; "Saya Sulsel, Saya Bangga, Saya Maju" adalah sebuah terobosan yang memiliki makna jika ditelisik lebih dalam.

Kata "Sulsel" di sini memiliki dua makna, makna denotatif (makna sesungguhnya) dan makna konotatif (makna tambahan). Kata Sulsel secara makna denotatif adalah sebuah wilayah, salah satu provinsi di Indonesia dan lain sebagainya. Sedangkan makna konotatifnya, kata Sulsel ini berangsur-angsur akan berubah menjadi kata sifat, mengikuti kata "Bangga" dan kata "Maju" seperti yang ada dalam tagline tersebut.

Makna kata "Sulsel" secara konotatif adalah mencerminkan karakter suku Bugis, Makassar, Tana Toraja dan Mandar; di antaranya; warani (berani), malempu (jujur), getteng (tegas). Dan beberapa karakter baik lainnya yang ada dan dianut masyarakat plural di Provinsi Sulawesi Selatan.

Jadi jika diartikan secara satu per satu, maka bisa saja tagline ini berubah menjadi; "Saya Berani, Saya Jujur, Saya Tegas, Saya Bangga, Saya Maju". Semangat dari kalimat ini teramat dalam bagi warga Sulsel. Provinsi Sulsel adalah provinsi yang terdepan di Kawasan Timur Indonesia (KTI), provinsi ini memiliki potensi yang cukup besar untuk menyejahterakan rakyatnya. Mulai dari hasil pertanian, hasil perkebunan, pertambangan, perikanan dan lain sebagainya.

Kebanggaan harus terus kita tanamkan kepada anak cucu kita ke depan, sehingga mereka bisa menjaga provinsi ini dari ragam "penghancuran" dari berbagai pihak yang tak bertanggung jawab. Seluruh warga Sulsel juga harus berani berjuang untuk kemajuan provinsi ini ke depan dan sederajat dengan provinsi lainnya yang ada di kawasan barat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Seluruh stakeholders, mulai dari pemerintah, penegak hukum, pengusaha, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain sebagainya harus memiliki sifat-sifat jujur dan tegas, sehingga tak ada lagi distorsi yang berujung pada kerugian masyarakat.

Jika sifat dan karakter Sulawesi Selatan ini kita bisa implementasikan dengan baik seluruh pemangku kepentingan di Sulsel, maka yakin saja tidak akan ada lagi korupsi di Sulawesi Selatan. Bahkan bisa jadi Provinsi Sulawesi Selatan akan menjadi pionir dalam percepatan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Rasa kebanggaan bagi seluruh warga Sulsel harus terus dipupuk dari generasi ke generasi. Beralasan memang, secara kuantitatif bukankah di Sulsel ini memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang cukup banyak? Belum lagi sifat dan karakter warga Sulsel yang "lebih" dan diyakini mampu berbuat yang berujung pada peningkatan kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup warga Sulawesi Selatan.

Darah Sulawesi Selatan kita akan bergolak, jika ada pihak-pihak tertentu yang melakukan penghasutan dan upaya provokasi untuk meruntuhkan rasa persaudaraan kita sesama warga Sulsel. Jiwa Sulawesi Selatan kita akan bergelora, jika melihat ada perusakan di alam di wilayah Sulawesi Selatan.

Dan secara bersama-sama kita membangun Sulsel ke arah yang lebih baik demi anak cucu kita ke depan. Semoga! (*)

KOMENTAR BERITA "Saya Sulsel, Saya Bangga, Saya Maju"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).