KAMIS, 11 NOVEMBER 2010 | 01:10 WITA | 131768 Hits
Share |

Sampai Jumpa Lagi, Barry

TELITI. Pasukan Pengamanan Presiden AS memeriksa senjata Paspampres RI jelang upacara pelepasan Presiden Barack Obama di Halim Perdanakusuma, Rabu, 10 November. (FOTO ROSLAN RAHMAN/AFP)
HARI masih sangat pagi. Sejak subuh, puluhan bus berjajar rapi di parkir timur Senayan Jakarta. Bus-bus itu akan mengangkut para undangan ke Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, untuk mendengarkan langsung pidato terbuka Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Emerson Yuntho, aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), tampak dalam kerumunan yang antre menunggu bus. Sambil menyeruput kopi panas di gelas bekas Aqua yang baru dibeli di warung pinggir Senayan, ia lalu melayani wawancara wartawan mengenai kesan kedatangan Obama.

"Kita ingin Obama bisa menekan SBY untuk lebih serius dalam memberantas korupsi," kata Emerson.
Untuk alasan keamanan, hampir semua undangan diangkut dengan bus. Hanya sejumlah undangan VIP (menteri, pejabat tinggi, dan korps diplomatik negara-negara lain) yang masuk ke UI menggunakan mobil pribadi. Mantan Presiden BJ Habibie saja juga rela untuk naik bus.

Undangan yang disebar Duta Besar AS memang beragam. Undangan terdiri atas alumni program pertukaran pelajar, mahasiswa dari 77 universitas, pelajar SMU, dan LSM se Jabodetabek. Tak ketinggalan pula teman-teman Obama di SD Besuki, Menteng. Praktis, pidato Obama diikuti oleh semua umur.

Mulai dari ABG (anak baru gede), hingga mantan pejabat yang sangat senior seperti Ketua Wantimpres, Prof Emil Salim. Mulai dari tokoh yang sering muncul di televisi, hingga pesohor yang sulit dicari seperti mantan Deputi Gubernur BI, Miranda Swaray Goeltom.

Meski pemeriksaan keamanan sangat ketat, kebanyakan undangan tetap enjoy. Mereka rela antre meski harus diperiksa secara berkelompok. Enam sampai delapan orang. Bayangkan, 7.500 orang diperiksa satu per satu secara manual.

Pemeriksaan pertama sebelum naik bus. Semua undangan harus menunjukkan KTP. Setelah masuk UI, undangan diturunkan di dekat Science Park, gedung di sebelah Rektorat UI. Di gedung Science Park, KTP kembali diperiksa.

Pemeriksaan ketiga dilakukan ketika memasuki Balairung UI. Pemeriksaan dilakukan oleh staf gedung putih dan Secret Service (SS, Paspampres-nya AS). Paspampres RI hanya melihat-lihat dan mengambilkan tas yang telah dianggap steril oleh SS.

Wartawan juga di-screening ketat. Dari 160 pendaftar, hanya disetujui 30 orang jurnalis. "Hanya yang ada di bus ini. Kalian semua mendapat tempat spesial di sini," kata Atase Pers Kedubes AS di RI, Corina Sanders.

Semua undangan dilarang membawa tas, makanan dan minuman, payung, dan kamera video. Setelah diperiksa secara berkelompok dan berlapis-lapis, tibalah hadirin di Balairung UI. Satu demi satu kursi di ruangan penuh. Proses berlangsung dengan cukup rapi.

Tak ada acara selingan sebelum Obama menyampaikan pidato. Untuk membunuh bosan, Habibie berdiri dan mengambil gambar para hadirin yang ada di balkon. Hadirin pun tertawa dan memanggil-manggil nama presiden ketiga RI itu.

Tepat pukul 09.30 WIB, Obama tiba dan melambaikan tangan, disambut tepuk tangan meriah. "Assalamualaikum. Salam Sejahtera." "Thank you for this wonderful welcome. Thank you to the people of Jakarta. And thank you to the people of Indonesia. Pulang kampung nih," sapa Obama sambil terus tersenyum.

Obama juga kembali bernostalgia mengenai masa kecilnya saat tinggal di Menteng pada 1967. "Teman sekelas saya pasti tak menyangka. Suatu hari saya akan kembali ke sini sebagai presiden AS. Jakarta pun berubah dengan tidak disangka-sangka," kata Obama.

Usai pidato, Obama menyempatkan diri turun panggung dan menyalami hadirin yang ada di baris depan. Hadirin makin histeris memanggil-manggil nama Obama.

Beberapa orang yang sengaja memakai seragam batik cokelat memanggil nama kecil Obama, "Barry.. Barry." Mereka adalah teman-teman Obama sewaktu masih bersekolah di SD Besuki, Menteng. Mereka juga tak henti-henti memotret teman masa kecilnya.

"Sayang sekali kami tak bisa berfoto bersama," kata Sulaiman Prabowo, salah satu teman masa kecil Obama.

Kehadiran Obama di UI memang tak membuat suka semua orang. Ahmad Al-Ayyubi, mahasiswa Fikom UI yang tinggal di asrama di dalam kampus UI, mengaku kesulitan akses keluar kampus ketika Obama datang. "Mulai kemarin Bus UI tidak ada. Sepeda kuning juga tak ada. Kami harus berjalan 1,5 kilometer untuk keluar kampus," kata Ahmad, yang tak turut diundang mengikuti pidato Obama.

Sejumlah mahasiswa UI juga ada yang berdemonstrasi menolak kedatangan Obama.
Meski demikian, harus diakui, Obama cukup berhasil "menyihir" massa yang hadir di UI kemarin. "Sangat bermanfaat. Dari awal sampai akhir Obama selalu fokus pada pembangunan sumber daya manusia," kata Habibie, sambil menunggu bus yang mengantarnya pulang.

Demi menonton Obama, Habibie rela hampir setengah jam mengantre bus. Saking capeknya, dia sempat salah masuk ke bus yang ditumpangi wartawan. Habibie sempat duduk lima menit di bus wartawan. Habibie lalu dijemput dengan mobil yang akan membawanya ke dalam bus VVIP. Sambil tersenyum, Habibie pun nurut dan turun dari bus wartawan.

Kunjungan perdana Obama kali ini juga berlangsung sangat singkat, hanya 18 jam. Beberapa orang juga mengharapkan Obama bisa mengunjungi Indonesia kembali. "Semoga nanti bisa ke sini lagi, dan kami bisa berfoto bersama," ungkap Mira Mahmud, salah satu teman Obama di SD Besuki, Menteng. Sampai jumpa lagi, Barry. (jpnn)

KOMENTAR BERITA "Sampai Jumpa Lagi, Barry"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).