JUMAT, 07 JANUARI 2011 | 00:17 WITA | 56225 Hits
Share |

Gbagbo Rancang Perkosaan Massal
Tuduhan Alassane Ouattara, Presiden yang Diakui Dunia

Alassane Ouattara
PARIS -- Setelah dua kali gagal membujuk Presiden Laurent Gbagbo mundur, manuver politik pun digunakan untuk mendesak sang incumbent mundur. Presiden pemenang pemilu yang diakui internasional Alassane Ouattara mengungkapkan bahwa rivalnya telah merekrut tentara bayaran dari Liberia untuk melakukan pembunuhan serta perkosaan terhadap para pendukungnya.

"Tangan Gbagbo penuh bergelimang darah," ujar Ouattara yang menuai dukungan dunia kepada radio Europe 1, Prancis, dalam sebuah wawancara di dalam hotel tempat pemerintahan bayangan dikendalikan. "Banyak rakyat Pantai Gading yang dibunuh oleh tentara bayaran dan milisi Gbagbo. Sudah 200 orang tewas dan lebih dari seribu lainnya menjadi korban perkosaan serta luka-luka," paparnya.

"Tentu kami punya bukti (atas dugaan tersebut). PBB serta organisasi HAM internasional juga melihat adanya pembantaian, pembunuhan, dan menunjuk tentara bayaran serta milisi yang direkrut Gbagbo sebagai pelakunya," tambahnya.

Ahli HAM PBB, pekan lalu mengkhawatirkan meluasnya kekerasan pasca pemilu bisa menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan. "Sudah menulis surat kepada Sekjen PBB (Ban Ki Moon) untuk meminta Pengadilan Kejahatan Internasional mengirimkan penyidik ke Pantai Gading. Dan saya diberi tahu bahwa mereka akan mengirimkan tim dalam beberapa hari ini," tandas Ouattara.

Sambil menuduh Gbagbo melakukan pembunuhan terhadap para pendukungnya, Ouattara menyatakan "Dia membunuh rakyatnya sendiri menggunakan tangan orang asing, tentara bayaran dari Liberia," katanya.

Ouattara yang diakui dunia internasional sebagai pemenang pemilu 28 November 2010, diharapkan mampu mengakhiri perpecahan di Pantai Gading. Sejak satu dekade lalu, negara produsen cokelat terbesar di dunia tersebut telah terbelah menjadi selatan dan utara.

Meski demikian, Gbagbo yang telah berkuasa selama satu dekade terakhir, menolak mundur. Karena merasa sebagai pemenang pemilu sebenarnya.

Walaupun diisolasi di dalam Hotel Golf oleh tentara loyalis Gbagbo, Ouattara yakin pihaknya akan merebut kekuasaan sebelum Januari berakhir. "Saya yakin beberapa hari ke depan kami akan memerintah secara penuh," katanya yakin.

"Jika Laurent Gbagbo tetap ngotot bertahan, dia akan menerima konsekuensinya. Dia akan dipaksa mundur dan hal itu akan dilakukan dengan mudah," jelasnya mengacu ancaman ECOWAS yang akan menggunakan kekuatan militer untuk mendongkel Gbagbo seperti dilansir Agence France-Presse.

"ECOWAS akan melakukannya. ECOWAS tidak mungkin menyatakan sebuah komitmen tapi tidak diwujudkan. Walau pun saya rasa ECOWAS juga ingin memilih jalan damai. Namun sekarang, waktunya Laurent Gbagbo mundur," tandasnya.

Sekjen PBB Ban Ki Moon, juga dinilai memiliki perhatian khusus atas isu Pantai Gading. Sumber internal PBB menyatakan, perhatian Ban atas kasus Pantai Gading lebih daripada kasus krisis di negara lain.

Tidak biasanya Ban mendukung penuh sikap komunitas internasional untuk melengserkan sebuah rezim. "Ban, secara personal, melibatkan dirinya lebih serius daripada isu yang sama di negara lain. Hampir setiap hari dia melakukan pembicaraan langsung (video conference) dengan misi perdamaian di Abidjan," terang sumber yang enggan identitasnya disebutkan.

Gbagbo mendesak agar 9.500 pasukan penjaga perdamaian PBB ditarik dari Pantai Gading. Namun Ban tetap kukuh mempertahankan pasukan PBB di sana. Dia menegaskan, dunia internasional akan menindak siapa pun yang bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran HAM. (jpnn)

KOMENTAR BERITA "Gbagbo Rancang Perkosaan Massal"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).