RABU, 03 MARET 2010 | 20:59 WITA | 231 Hits
Share |

Pesimisme Spirit Reformasi PAN
Oleh: Aswar Hasan, Dosen FISIP Unhas

Aswar Hasan
Akankah matahari PAN dapat menyinari kegelapan dan mencairkan kebekuan bangsa ini dari keterbelakanan dan kebodohan? Cukuplah sudah seorang Soetrisno Bachir yang memperdengarkan rintihannya, bahwa ia telah beku dalam matahari PAN.

Pada edisi Rabu 24 Februari, Sekretaris DPW PAN Sulsel Abustan menulis artikel berjudul "Hatta Bentangkan Optimisme PAN". Artikel tersebut diawali dengan alinea yang menyatakan bahwa Hatta Radjasa menjanjikan PAN akan selalu memegang teguh political code of conduct (tata perilaku politik). Bahkan menegaskan PAN akan menjadi mitra kritis pemerintah. Benarkah?

Jika mengingat sikap dan perilaku politik PAN di Pansus Century, maka apa yang dikemukakan Abustan tentang PAN tersebut, jelas membuat kita sangat kecewa. Telah terjadi jarak perbedaan antara pernyataan dan kenyataan. Ibaratnya, laksana langit dan bumi.

Kita tentu masih ingat betul, bagaimana pendiri PAN HM Amien Rais menyatakan bahwa fraksi di Pansus Century harus berani menyebut nama dalam pandangan akhirnya. Namun beberapa hari berselang, Amien lagi-lagi berkomentar, bahwa berdasarkan info yang dia terima, ternyata tidak ada fraksi yang berani menyebut nama.

Perkiraan Amien meleset, karena ternyata ada empat fraksi (PDIP, Golkar, PKS, dan Hanura) dengan gamblang berani menyebut nama. Sementara dua lainnya (PPP dan Gerindra) menyebut pimpinan institusi KSSK dan Bank Indonesia yang harus bertanggung jawab.

Dengan kata lain, secara tidak langsung, juga menembak nama tertentu, yakni Boediono dan Sri Mulyani. Berbeda halnya dengan pandangan akhir Fraksi PAN yang justru tidak jelas, sangat abu-abu, atau lebih jelasnya, membingungkan. Sementara di sisi yang berbeda, Fraksi Demokrat dan Fraksi PKB menyimpulkan bahwa kebijakan bailout tentang Century sudah tepat.

Dalam pada itu, Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KOMPAK) menghadiahi karangan bunga suka cita kepada masing-masing fraksi Golkar, PDIP, PKS dan Hanura. Keempat fraksi tersebut dinilai telah dengan teguh dan gigih menggelorakan semangat reformasi sebagai amanat demokrasi dalam mengungkap kasus Century.

Fraksi Gerindra dan PPP juga mendapat karangan bunga, meskipun dalam ukuran yang lebih kecil, sementara Fraksi Demokrat dan PKB juga mendapat karangan bunga, tetapi untuk jenis duka cita. Namun, terhadap Fraksi PAN tidak diberi bunga apapun.

Amien Rais Tak Lagi Bertuah

Selaku Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PAN, Amien Rais mengaku kecewa terhadap pandangan akhir Fraksi PAN dalam Panitia Angket Kasus Bank Century DPR RI yang tidak mau menyebut nama.

Betapa tidak, dia telah meminta untuk menyebut nama, supaya tegas, jelas, dan transparan. Namun kenyataannya, fatwa politik Amien selaku ketua MPP PAN tidak memiliki pengaruh sedikitpun. Ia tidak didengar. Sebaliknya, ia dipermalukan oleh anggota partainya sendiri.

Sikap Fraksi PAN tersebut tidak hanya mengecewakan seorang Amien Rais, tetapi juga oleh kader di tingkat bawah. Wakil Ketua PAN DKI Jakarta misalnya, begitu sangat menyesalkan sikap PAN tersebut. Kader PAN DKI itu pun sangat kecewa atas sikap tidak jelas partainya di pansus.

Betapa tidak, kasus ini telah menjadi perhatian masyarakat luas termasuk dalam hal ini kader dan simpatisan partai, sehingga segala keputusan yang terjadi di pansus akan menjadi penilaian publik yang berimbas pada citra partai. Citra partai taruhannya, ini tidak main-main.

Kita pun bertanya, apakah spirit reformasi masih bergelora di tubuh PAN di bawah kepemimpinan Hatta Radjasa sebagaimana dinyatakan Abustan, bahwa PAN akan menjadi mitra kritis pemerintah? Tampaknya, dalam kasus Century, kita sudah mendapatkan jawabannya bahwa pernyataan tersebut hanyalah pepesan kosong belaka.

Dalam berita di JPNN edisi 12 Januari 2010, Andrinof Chaniago, direktur eksekutif Cirus Surveyor Group menilai bahwa rangkap jabatan yang dilakukan Hatta selaku ketua partai dan menteri di pemerintahan SBY bertentangan dengan jati diri PAN yang reformis, di mana ke depan PAN akan lebih sering bermain di dua kaki.

Praktik politik demikian, jelas kurang bersesuaian dengan semangat reformasi. Lebih lanjut Andrinof menyatakan, bahwa dengan kepemimpinan rangkap jabatan Hatta tersebut, suara PAN bisa merosot akibat ketidakefektifan kinerja dalam menjalankan jabatan. Konsekuensinya, partai akan jadi korban.

Jika kekhawatiran Andrinof tersebut semakin menemukan gejala pembenarannya, maka optimisme saudara H Abustan yang menulis, bahwa Hatta bentangkan optimisme PAN, justru patut dipertanyakan.

Menjadi Dayang-dayang Pemerintah

Sangat disayangkan jika PAN pada akhirnya hanya menjadi partai yang berfungsi sebagai dayang-dayang pemerintah, karena ketuanya seolah telah menjadi koordinator koalisi di tubuh pemerintahan kabinet SBY-Boediono.

Selaku "kordinator koalisi" Hatta dituntut senantiasa turut mengamankan suara-suara sumbang yang sangat mungkin selalu terjadi di parlemen. Dalam kondisi seperti itu, maka tentunya sepak terjang Fraksi PAN di parlemen, tidak boleh lebih kencang atau lebih tajam dan kritis dibanding dengan suara fraksi anggota koalisi lainnya.

Apa yang terjadi di Pansus Century, sudah cukup menjadi isyarat bahwa PAN akan semakin sulit untuk bisa bersuara kritis. Sebagai contoh, kita bisa menyimak bagaimana buntut pidato Hatta Radjasa ketika melantik pengurus baru PAN, 9 Februari 2010, sehari setelah pandangan awal Pansus Century,

di mana Hatta berpidato dengan menyatakan, bahwa PAN berkewajiban menyukseskan pemerintahan, tapi kita juga harus tetap kritis, ia pun menegaskan, bahwa koalisi harus dimaknai sebagai uapaya bersama membangun pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan prorakyat.

Akibat pidato Hatta tersebut, spekulasi pun merebak, bahwa Presiden SBY dikabarkan menegur Hatta. Ketika dikonfirmasi perihal tersebut, Ketua DPP PAN Tjatur Sapto Edi menegaskan dengan berkelit, bahwa tak mungkin Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY menegur Ketua Umum DPP PAN Hatta Radjasa.

Tetapi kemudian Tjatur menegaskan bahwa yang ada adalah presiden menegur para menterinya di kabinet. Artinya, kita bisa menyimpulkan bahwa Hatta sebagai menteri, memang telah ditegur oleh Presiden.

Sangat boleh jadi, bahwa memang ada indikasi "tekanan/teguran" SBY melalui Hatta kepada Fraksi PAN di Pansus Century. Bahkan, kita juga menyaksikan melalui Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar (kader PAN di kabinet) yang dengan lantang menegaskan bahwa penyebutan nama dalam Pansus Century adalah melanggar asas praduga tak bersalah (lagi-lagi bertentangan dengan arahan Amien Rais).

Atas fenomena tersebut, kitapun sangat beralasan untuk pesimis dan bertanya-tanya dalam hati, apakah PAN masih eksis sebagai partai reformis? Apakah PAN masih istiqamah sebagai partai yang lahir dari rahim reformasi yang bertujuan berpolitik untuk rakyat, bukan untuk kepentingan kekuasaan yang sekadar mengatasnamakan rakyat? Dan untuk itu, kita butuh bukti, bukan sekadar jawaban. (**)

KOMENTAR BERITA "Pesimisme Spirit Reformasi PAN"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).