JUMAT, 23 JULI 2010 | 22:39 WITA | 26101 Hits
Share |

Ijtihad Menentukan Arah Kiblat
Oleh: Barsihannor (Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar)

Barsihannor
Dikarenakan segala sesuatu menghadap ke arah Mekah, sedang titik pusat kota Mekah adalah Baitullah, maka dapat disimpulkan bahwa Kakbah merupakan pusat bumi yang tidak pernah bergeser dari porosnya.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 03 Tahun 2010 tentang arah kiblat, oleh sebagian pihak dianggap tidak sesuai, dan perlu diubah atau direvisi. Fatwa itu hanya menyebutkan bahwa arah kiblat di Indonesia cukup menghadap ke Barat.

Padahal menurut perhitungan Ilmu Falak, arah kiblat di Indonesia tak sekadar menghadap Barat, melainkan menghadap ke Barat serong ke utara, sekitar 22 derajat hingga 26 derajat.

Isu perubahan arah kiblat ini membuat sebagian masyarakat bingung, lebih-lebih pengurus masjid yang bertanggung jawab menyusun shaf jemaah. Bagi mereka, penentuan arah kiblat (dengan menyusun shaf) sangat urgen mengingat hal ini menyangkut sah-tidaknya seseorang dalam melaksanakan ibadah.

Artinya jika salat jemaah dianggap tidak sah dan tidak diterima Allah karena tidak menghadap ke kiblat (Baitullah), maka tentu pengurus masjid ikut bertanggung jawab atas ketidakabsahan ibadah jemaah. Karena itu, sejumlah pengurus masjid meminta bantuan kepada tim Hisab-Rukyat UIN Alauddin Makassar untuk menentukan arah kiblat yang tepat.

Melihat kegalauan masyarakat ini, Menteri Agama Suryadharma Ali meminta agar persoalan arah kiblat jangan dipermasalahkan, cukup dilakukan secara ijtihad (kemampuan) masing-masing orang saja. "Selama ini jika kita salat tak mungkin 100 persen sempurna menghadap ke arah kiblat yang sebenarnya, pasti ada bergesernya sedikit," demikian ungkapnya.

Menghadap kiblat (mengarah atau menghadap ke posisi Baitullah) merupakan salah satu syarat sah salat. Para ulama sepakat tentang hal ini. Kewajiban menghadap ke Baitullah (kiblat) bisa menjadi kewajiban mutlak, tetapi juga dapat menjadi kewajiban ijtihadi.

Artinya, halat seseorang tetap dianggap sah meski tidak menghadap ke kiblat asalkan ketika di awal takbir dia sudah menghadap kiblat. Misalnya ketika orang salat di atas kapal. Pada posisi awal dia menghadap kiblat, tetapi di dalam perjalanan, kapal tidak lagi tepat mengarah ke kiblat, maka seseorang tidak harus mengubah posisi menyesuaikan arah kiblat, tetapi dia tetap berdiri tegak seperti posisi semula.

Menurut ulama fikih, salat orang seperti ini tetap dianggap sah. Demikian pula ketika berada di atas pesawat, atau orang yang tersesat di hutan belantara yang tidak tahu menentukan arah timur-barat atau utara-selatan. Orang semacam ini tidak mutlak harus menghadap kiblat. Yang penting niatnya sudah menghadap ke kiblat. (Lihat QS Al-Baqarah; 114)

Itulah sebabnya para ulama menentukan tiga cara menghadap kiblat yaitu;

a. Ainul Ka'bah; seseorang wajib menghadap Baitullah dalam salat jika dia berada di dalam masjid al-Haram atau dia melihat langsung posisi Baitullah.
b. Jihat al-Ka’bah; seseorang menghadap Baitullah meski dia tidak dapat melihat langsung posisi tepat Kakbah. (Di Indonesia, umat Islam menghadap ke Barat laut)
c. Ijtihadi fi jihat al-Ka’bah; seseorang berijtihad menentukan arah kiblat seperti kasus salat di atas kapal/pesawat atau tersesat di hutan belantara.

Sejarah salat menghadap Baitullah dapat dilihat dalam sejumlah riwayat, di antaranya hadis riwayat Imam al-Bukhari (al-Bukhari; 399). Diriwayatkan, sebelum mengadap ke Baitullah, Rasulullah salat menghadap ke Baitul Maqdis Palestina selama kurang lebih 16 bulan lamanya.

Nabi Muhammad saw senantiasa berdoa dan menanti wahyu agar diberi petunjuk tentang arah kiblat. Allah swt akhirnya mengabulkan permohonannya dengan turunnya wahyu yang memintanya untuk memalingkan wajah ke arah Masjid al-Haram (QS Al-Baqarah; 144)

Ayat ini turun di bulan Sya’ban saat Nabi melaksanakan salat zuhur di Masjid Qiblatain di wilayah Bani Salamah. Dinamai Qiblatain (dua kiblat) disebabkan pada awalnya (dua rakaat pertama) Nabi salat menghadap Baitul Maqdis, kemudian dua rakaat sesudahnya, Nabi berpaling ke Masjid al-Haram.(Syafiurrahman; 2002; 117)

Kakbah, Posisi Sentral

Pada tahun 1912, seorang pakar geologi Alfred Wagener mengemukakan sebuah teori yang dikenal dengan Continental Drift (arus-aliran benua). Menurutnya, dahulu bumi ini hanya terdiri atas sebuah benua, tetapi diakibatkan oleh pergerakan dan pergeseran bumi, maka daratan ini kemudian bergerak dan membentuk gugusan-gugusan pulau yang ia sebut dengan istilah pangaea.

Menurut Alfred, akibat pergeseran ini, maka Gunung Himalaya semakin tinggi dan beberapa lautan mengalami perluasan, dan sebagian lain menyempit.

Jauh sebelum Alfred berbicara, Nabi Muhammad saw telah menyampaikan firman Allah dalam QS Al-Naml; 88, bahwa gunung-gunung ini sesungguhnya bergerak seperti jalannya awan. Di ayat lain dinyatakan bahwa bumi ini bergerak sehingga di suatu daerah mengalami penyempitan dari tepi-tepinya (QS Al-Ra’d: 41). Menurut para ahli astronomi, lempengan bumi bergerak secara terus-menerus.

Gerakan kulit bumi sangat lambat sehingga mata tidak bisa memantau secara langsung. Gerakan lempengan ini rata-rata 1 mm/tahun. (Hisyam Taibah, dkk; 2009; 115)

Gerakan inti lempengan bumi dibedakan menjadi tiga macam; Pertama, gerakan yang saling berjauhan, yaitu gerakan dari dua buah lempengan bumi yang saling berdampingan tetapi bergerak menjauh. Kedua, gerakan yang saling berdekatan yaitu bertemunya dua lempengan yang kemudian bertabrakan satu sama lain dan biasa berpotensi menghasilkan gempa.

Ketiga, gerakan peralihan, yaitu perkembangan rekahan sepanjang ada gerakan. Efek dari pergerakan ini, dapat menyebabkan terjadinya perubahan arah kiblat. Yang berubah bukan posisi Kakbah tetapi posisi arah manusia menghadap kiblat. Karenanya sewaktu-waktu diperlukan ijtihad untuk menentukan arah kiblat.

Kakbah yang menjadi kiblat kaum muslimin berada di kota Mekah Saudi Arabia. Posisi lempengan bumi menurut para ahli geologi mengitari lempengan Arab. Penelitian menunjukkan adanya wilayah pada posisi lempengan bumi sepanjang sejarah zaman kapur pertengahan, yaitu kira-kira 100 juta tahun yang lalu hingga sekarang.

Dari fakta tersebut, dapat diketahui bahwa letak lempengan Arab pada 100 juta tahun yang lalu (sebelum manusia diciptakan) dan letaknya sekarang menjadi poros tengah dari semua lempengan bumi yang mengitari lempengan Arab dari semua penjuru.

Lempengan Arab bergerak dengan tidak memotong jarak tempuh yang panjang, karena ia merupakan pusat gerakan yang berputar, ia bergerak di jari-jari lingkaran yang kecil. Maka semua lempengan yang mengitarinya akan mengikuti untuk berputar di sekitarnya dengan putaran yang teratur (seperti putaran orang bertawaf di sekitar Kakbah).

Dengan demikian, ketika orang mendirikan salat menghadap Baitullah (rumah Allah) sesungguhnya dia sedang membangun sebuah kesadaran kosmik; kesadaran yang tumbuh menjadi sebuah keyakinan bahwa bukan hanya manusia yang diwajibkan tunduk dan patuh kepada Tuhan, tetapi seluruh penghuni alam semesta sujud kepada Sang Pencipta.

Firman Allah: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa hanya kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, binatang melata dan sebagian besar dari manusia. (QS Al-Hajj; 18) (*)

KOMENTAR BERITA "Ijtihad Menentukan Arah Kiblat"


Redaksi: redaksi@fajar.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus@fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext.1437).